Menjemput Rindu di Tepi Senja
Enam bulan terpisah jarak dan perbedaan zona waktu bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Komunikasi kami selama ini hanya bertumpu pada layar ponsel dan panggilan suara yang kerap terputus sinyal. Karena itu, saat ia akhirnya mendapat cuti dan menemuiku, momen ini menjadi pertemuan yang sangat berharga. Kami sepakat menghabiskan sore itu dengan menyusuri jalan pesisir menuju sebuah kafe kayu di pinggir tebing pantai. Di dalam mobil, wangi parfum musk khasnya bercampur dengan aroma garam dari embusan angin laut yang menyusup lewat celah jendela. Sepanjang perjalanan, tangan kirinya tak lepas menggenggam jemariku, sementara tangan kanannya mengendalikan kemudi. Ia bercerita panjang lebar tentang rencananya ke depan, tentang kami. Aku menatapnya lekat-lekat, merekam setiap detail wajahnya yang tersorot pantulan silau jingga matahari sore dari kaca depan mobil. Ketika Binar Mata Mulai Redup Namun, perpaduan antara embusan AC mobil yang menyembur langsung ke arah wajahku dan s...